Konsep Akhlak Menurut Tinjauan Qur’ani

Oleh : Wa Ode Siti Karsi, S.Ag., M.Pd

Islam sebagai al-Din Allah merupakan manhaj al-hayat atau way of life, acuan dan kerangka tata nilai kehidupan. Oleh karena itu, ketika komunitas musim berfungsi sebagai sebuah komunitas yang ditegakkan di atas sendi-sendi moral iman, Islam dan takwa serta dapat direalisasikan dan dipahami secara utuh dan padu merupakan suatu komunitas yang tidak eksklusif karena bertindak sebagai “al-Umma al-Wasatan yaitu sebagai teladan di tengah arus kehidupan yang serba kompleks, penuh dengan dinamika perubahan, tantangan dan pilihan-pilihan yang terkadang sangat dilematis. Sebab, agama tidak dapat dipisahkan dengan akhlak. Bahkan agama sendiri adalah akhlak. Orang yang tidak menjalankan ajaran agamanya berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah berarti orang tersebut tidak memiliki akhlak mulia.

Ajaran Islam mengandung tiga unsur pokok, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Dengan kata lain bahwa Islam itu meliputi akidah, fikhi, dan akhlak. Ketiga unsur pokok ini masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda, namun ketiganya merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya, akidah mempunyai posisi kunci, sedangkan fikih dan akhlak sebagai pintunya. Sebagai ilustrasi, kalau Islam itu sebuah bangunan, maka akidah adalah sebagai pondasinya, sedangkan akhlak dan fikih adalah bagunan gedungnya dan benda-benda yang berdiri di atasnya.

Di dalam al-Qur’an, selalu dinyatakan bahwa iman itu adalah manifestasi dari amal perbuatan seseorang. Sering Allah swt menyebutkan amal perbuatan pada urutan pertama dan iman pada urutan kedua. Ini menegaskan, bahwa amal itu adalah merupakan manifestasi kualitas keimanan seseorang  hamba Allah. Iman menunjuk kepada keyakinan, sedangkan Islam (Syari’ah) menunjuk kepada tindakan lahiriah.  Sebagai contoh, mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat, berinfaq, bersedekah, menyantuni anak yatim, jujur, menjaga amanah, bertanggungjawab, dan sebagainya.

Dalam ajaran Islam, perbuatan Nabi saw yang terekam dalam haditsnya adalah merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an. Segala ucapan dan perbuatan serta perilaku beliau senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah swt, sebagaimana dinyatakan dalam QS: An-Najm ayat 3-4, yang artimya “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya Muhammad).”

Dalam ayat lain Allah swt memerintahkan agar umat manusia mengikuti jejak Rasulullah Muhammad saw dan tunduk kepada risalah yang dibawa beliau. Allah berfirman dalam QS: al-Hasyr ayat 7, yang artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Sangat keras hukuman-Nya.”

Bila telah jelas bahwa al-Qur’an dan hadits Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas dan dasar pedoman hidup bagi setiap mukmin, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlak mulia bagi setiap mukmin. Al-Qur’an dan sunnah Rasul adalah ajaran yang paling sempurna dari segala ajaran manapun dari renungan dan pikiran manusia. Hal inilah yang menjadi dasar akidah, bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk Allah swt dalam al-Qur’an dan sunnah. Dari pedoman itulah diketahui kriteria mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tercela, sebagaimana dalam hadis Nabi saw, diterangkan: “Aku tinggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan sesat selamanya jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Qur’an dan sunnahku (HR. al-Bukhari).”

Akidah tanpa akhlak bagaikan pohon tanpa daun dan tanpa buah, tidak ada yang dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah merupakan bayangan bagi benda yang selalu bergerak. Begitu pentingnya akhlak, maka Islam memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan akhlak.

Dalam hubungannya dengan persoalan aqidah dan akhlak ini, Mohammad Natsir mengatakan bahwa ideologi pendidikan Islam harus bertitik tolak dari dan berorientasi kepada tauhid. Keyakinan untuk bertauhid dengan segala konsekwensinya merupakan pokok dari akidah, sementara akidah itu sendiri menurut Mohammad Natsir memiliki fungsi pokok, yaitu motivasi, sumber inspirasi, sumber kekuatan, titik tolak dalam berbuat, dan pandangan hidup yang akan dibawa mati. Pendapat Mohammad Natsir tersebut memberi makna bahwa orang yang bertauhid jelas memiliki akhlak mulia yang terpancar dari sifat-sifat yang penuh kemuliaan. Ia akan beramal menurut kemampuan, kecakapan, dan kecerdasannya dalam berinteraksi (bermuamalah) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya, serta dengan lingkungan alam semesta berdasarkan al-Qur’an dan sunnah.

Dalam konsep pendidikan Qur’ani, konsep ini dirujukkan kepada kodrat dasar manusia sebagai makhluk Allah swt yang memiliki dimensi fisik dan ruhani yang kualitasnya sangat ditentukan oleh adanya keseimbangan, antara keseimbangan individu dan sosial, yaitu hubungan individu dengan Allah swt, hubungan dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan lingkungan alam semesta. Allah swt berfirman dalam Q.S:Lukman ayat 6 yang artinya “Hai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Keseimbangan manusia dapat dilihat pula dalam peran yang dilakukannya sebagai “abd” (hamba) Allah swt, pengabdi yang tunduk dan patuh pada ketentuan dan perintah Allah sekaligus sebagai khalifah (wakil) Allah yang memiliki kebebasan dan tanggungjawab memakmurkan dan memberi manfaat kepada siapapun di muka bumi. Kedua peran ini menjadikan manusia sempurna (insan kamil) berakhlakul karimah  yang menjadi tujuan pendidikan.

Nilai kemanusiaan pada diri seseorang ialah terletak pada akhlaknya, sehingga konsep pendidikan akhlak merupakan kunci dari pendidikan Islam. Sebab dimensi aqidah, ibadah, dan dimensi akhlak adalah trikonsep struktur ajaran Islam. Akhlak menempati posisi inti sebagai puncak dari pembuktian aqidah dan pelaksanaan ibadah. Insan kamil (manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan dicirikan secara khas dengan karakter akhlak mulia.

Kepentingan akhlak dalam kehidupan umat manusia di dunia dinyatakan terang dan jelas di dalam al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan berbagai pendekatan yang meletakkan al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan mengenai nilai-nilai akhlak yang paling terang dan jelas. Pendekatan al-Qur’an dalam menerangkan akhlak yang mulia, bukan pendekatan teoritikal, tetapi dalam bentuk konseptual dan penghayatan. Akhlak yang mulia dan akhlak yang tercela digambarkan dalam perwatakan manusia, dalam sejarah, dan dalam realita kehidupan manusia yang terekam di dalam al-Qur’an dan sunnah.

Pada dasarnya, tujuan pokok pendidikan akhlak adalah agar setiap mukmin berbudi pekerti luhur, bertingkah laku, berperangai, beradat-istiadat yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

386total visits,2visits today