Menjadi Pribadi Yang Ikhlas

Oleh : Drs. Alimin Dere

Telah ditegaskan oleh Sang Kholiq (Pencipta), bahwa diciptakannya manusia dimuka bumi ini tiada lain adalah untuk beribadah, mengabdi dan menyembah kepada Allah, beribadah dan menyembah dalam artian menaati segala apa yang menjadi perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi semua apa yang dilarangn-Nya. Didalam menunaikan perintah ibadah itu hendaknya kita berlaku ikhlas, hanya memurnikan kepada Allah semata, tidak ditujukan kepada yang selain Allah.

Ikhlas adalah perkataan, perbuatan, dan kesungguhan seseorang semata-mata dimaksudkan karena Allah dan semata-mata hanya mencari ridho-Nya, tanpa memandang balasan, mengharap kedudukan, gelar, prestise, dengan tujuan agar seseorang dapat memurnikan amal perbuatannya, memperbaiki akhlak yang hina demi mengharap keridhaan Allah Swt. Hati yang bersih akan melahirkan keikhlasan. Satu upaya batin yang hanya dengannya Allah akan menerima sebuah amalan. Hati yang bersihlah yang akan melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas. Pribadi yang hanya mengharapkan ridha Allah sebagai imbalan atas ibadahnya. Islam telah menyerukan kepada kita semua agar berlaku ikhlas dan menghormatinya, hal ini disebutkan dalam firman Allah yang artinya : “dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah kepada Allah dengan ikhlas karena agama”

Oleh karena itu, suatu amalan tidak dianggap baik kecuali amalan itu tumbuh dari niatan yang baik dan ikhlas karena Allah. Suatu amalan yang baik adalah diniatkan dan disandarkan kepada satu niat hanya mengharap ridha Allah, karena Allah tidak akan memerintahkan kepada hambanya kecuali kepada hal yang baik dan Allah mencintai kebajikan, maka dari itu tujuan manusia selama hidup didunia hendaknya mengusahakan kebajikan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat pada umumnya.

Namun setiap sesuatu yang bersih bisa jadi ternoda, begitu pun juga hati manusia. Kebersihan atau keikhlasan hati manusia sangat rentan dari noda-noda, yang karenanya akan mengganggu keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah SWT.

Kalau sebuah amalan ternodai keikhlasannya, maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian pendapat ulama yang mengatakan bahwa syarat diterimanya sebuah amal ibadah adalah bila amal itu dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah semata, dan yang kedua adalah amalan itu dilakukan berdasarkan syariat yang telah ditentukan Allah atau pun sunnah dari Rasulullah Muhammad SAW.  Karena pada dasarnya keduanya merupakan hal yang saling berkaitan erat. Ikhlas merupakan amalan batin ,sementara syariat atau sunnah Rasulullah adalah amalan zahir.  Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya:

“Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya (HR. Ibnu Majah)”

Dari hadits Rasulullah diatas, memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa ikhlas merupakan faktor penentu dalam setiap amalan. Agar segala perbuatan yang dilakukan diterima oleh Allah. Ketika kita berniat untuk melakukan sebuah pekerjan, atau sebuah amalan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT misalnya, dan ternyata ketika melakukannya ada motivasi lain yang membangkitkannya, maka apa yang kita lakukan sebenarnya tidak lagi dalam konteks ikhlas.

Seseorang yang beramal tanpa disertai keikhlasan dapat digambarkan seperti seseorang yang pergi kepasar dan berbelanja dengan membawa sebuah kantong besar yang yang diisi penuh penuh dengan barang bawaan seolah-olah dalam kantungannya tersebut terdapat banyak barang yang berharga, akan tetapi ironis setelah dibuka dan dilihat islanya hanyalah tumpukan barang yang tidak memiliki harga sama sekali, dari perumpamaan ini, dapat diketahui bahwasanya sebesar dan sebanyak apapun amalan yang telah kita perbuat tanpa dilandasi keikhlasan adalah sebuah hal yang sia-sia. Karena pada hakikatnya Allah tidak melihat hambanya dari penampilan fisiknya, akan tetapi Allah menilai hambanya dari keikhlasan dan hati dari hambanya tersebut. Nabi kita bersabda :

” sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula melihat bntuk kalian, akan tetapi allah akan melihat kepada hati kalian” (H.R Muslim)

Begitu mudahnya keikhlasan mengalami kontaminasi dari penyakit- penyakit hati, maka dibutuhkan kesungguhan dari masing masing kita untuk senantiasa mengevaluasi diri agar  amalan yang telah kita lakukan tidak sia- sia di hadapan Allah Swt. Jangan sampai kita lengah terhadap adanya penyakit-penyakit hati yang senantiasa berlindung di dalam hati kita, karena adanya penyakit itu bisa menjadikan Allah tidak menerima amalan-amalan yang telah kita lakukan. Karena sesungguhnya amalan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, disamping amal tersebut sampai disisi Allah (artinya diterima amal tersebut) juga dalam kehidupan sering kali dapat memberikan pertolongan dan jalan keluar (way out/makhrojan) ketika si pelaku menghadapi suatu bencana atau kesulitan maka Allah akan memberikan pertolngan-Nya berkat amal yang telah dilkukannya tersebut dengan penuh keikhlasan.

Saudaraku, Insya Allah dengan menyadari betapa keikhlasan dalam beramal sangat mempengaruhi diterima tidaknya amalan ibadah kepada Allah. Dan sebaliknya, dengan adanya penyakit hati yang mengiringi setiap amalan akan merusak dan menghilangkan amalan itu sendiri di hadapan Allah, maka akan memberi motivasi kepada kita semuanya, untuk senantiasa berupaya menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mukhlish. Dan semoga Allah akan senatiasa menjaga hati- hati ini agar senatiasa diberi keikhlasan dalam setiap amalan kita

Wallahu a’lam bishowab.

289total visits,2visits today